Perjalanan Singkat 21 Tahun
July 22, 2019
Gadis kecil itu kian tumbuh dan berkembang. Berpetualang merupakan hobi sedari kecil. Kebun disepanjang belakang rumah menjadi incaran manis baginya entah untuk bermain masak-masakan, ikut anak-anak lelaki main layang-layang maupun menabung sepulang sekolah di balik bebatuan. Di Sekolah Dasar, tak jarang gadis kecil itu mendapat peringkat kelas. Sedari kelas 1-6 selalu menduduki peringkat 3 besar, 5 besar, atau 10 besar. Dia sangat suka bernyanyi, mengikuti paduan suara adalah moment pertamanya untuk bisa bereksplorasi. Namun baginya itu saja tak cukup, dia pernah menantang dirinya sendiri untuk berani tampil di depan umum. Saat duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar, kesempatan menarik datang padanya. Setiap menjelang 17 Agustus, ada perayaan karnaval dikota. Berbagai aksi di setiap sekolah ditampilkan, salah satunya drum band. Yup, dulunya si gadis kecil tersebut mengambil posisi di bagian pianica. Namun, untuk dapat mengeksplor dirinya, Ia memberanikan diri untuk memimpin di barisan drum band. Gadis kecil periang itu pernah menjadi mayoret. Memimpin jalannya drum band di setiap jalan yang dilewati saat karnaval. Menjadi pusat perhatian banyak orang dan tentunya belajar pula untuk lebih percaya diri.
Karena jarak dari Sekolah Dasar menuju rumah cukup jauh dia sudah harus terlatih untuk berangkat dan pulang sekolah dengan transportasi umum yaitu bus. Sangat jarang untuk di antar jemput. Meskipun kedua orang tuanya sibuk tidak menjadikannya manja. Hubungan terdekatnya yaitu dengan ayah, yang merupakan sosok yang selalu ia tunggu hingga malam tiba. Memancing di waduk merupakan hobi barunya dengan sang ayah saat kecil, meskipun tak sering mendapat ikan tapi keduanya sangat akrab. Namun sayang di tahun 2010, gadis kecil itu kehilangan sang ayah. Surga yang telah Tuhan siapkan ternyata menjemputnya lebih dulu dibandingkan segala moment yang belum lama ia rangkai bersamanya.
Menaiki tingkat SMP, gadis kecil itu berhasil memasuki SMP Favorit di kotanya dan berhasil pula ia duduk di kelas unggulan dari kelas 7-9. Apakah masih berprestasi? Yup, alhamdulillah masih hehe. Hobi menyanyinya tidak berhenti saat di jenjang Sekolah Menengah Pertama sekalipun. Menjadi dirigen di saat hari senin ketika upacara berlangsung dan memimpin semua peserta upacara untuk menyanyikan lagu-lagu nasional. Gadis kecil itu nampaknya makin percaya diri untuk berhadapan dengan banyak orang. Saat masa-masa SMP tak banyak kenangan yang diingat olehnya hehehe, yang pasti kegiatan baru untuk menyukai dengan tulisan dan menulis mulai terlihat, bahkan Ia juga pernah sekedar menulis puisi dan cerpen di salah satu media cetak majalah dan koran saat itu, hehehe.
Next masa SMA, masa yang terbilang lebih serius dan ambisius. Masa remaja yang dikata banyak orang penuh kisah suka duka entah percintaan maupun masa-masa menuju lebih dewasa. Masa SMA baginya adalah masa-masa penuh pilihan, memilih jurusan bidang saintek atau soshum dan memilih jurusan di jenjang perkuliahan kedepannya. Penuh banyak persiapan dan pengorbanan waktu serta pikiran. Sang Ibu memberikan kebebasan untuknya entah mau ambil jurusan IPS maupun IPA saat dibangku SMA. Akhirnya dia memilih IPS, jurusan yang membuatnya lebih bebas tanpa ada paksaan untuk memilih suatu jurusan karena gengsi atau pandangan sosial akan suatu jurusan. Tak tanggung-tanggung demi keinginanya melanjutkan studi di salah satu kampus terbaik Indonesia, UGM segala usaha untuk belajar dan berdoa telah Ia kerahkan, bahkan sejak kelas 10-12 selalu mendapat peringkat 3 besar. Tidak hanya dikelas melainkan peringkat paralel di sekolah. Kesukaannya akan geografi menjadikannya lolos pada olimpiade geografi dan mewakili sekolah hingga mendapat Juara 3 (ya lumayanlah, awal yang baik hihi). Selain itu untuk menikmati masa-masa remaja dengan kegiatan positif, sang gadis mengikuti kegiatan OSIS, mengembangkan seni musiknya dengan mengikuti paduan suara dan aktif pada kepenulisan ilmiah di kegiatan ekstrakulikuler KIR (Karya Tulis Remaja).
Masa-masa SMA nya nampak sibuk sekali, bahkan Ia pernah jatuh sakit hingga harus operasi usus dikarenakan terjadi infeksi di salah satu organ pencernaan (jangan ditiru ya), ambis boleh tapi soal kesehatan juga diprioritaskan hehe. Dari cerita diatas sepertinya sang gadis selalu lancar dan mulus ya segala perjuangan dan keberhasilan yang diraihnya? Mmm… tapi ada kisah yang lebih menarik. Ada disuatu masa ketika dia harus di bully oleh beberapa teman dan diremehkan dengan kata-kata yang tidak sepantasnya. Diremehkan soal mimpi, soal masa depan, dan segala perkataan yang mencoba menjatuhkan. Tapi, tujuan dan tekadnya yang bulat untuk dapat membahagiakan dan membanggakan orang tua pun berbuah manis. Saat pendaftaran SNMPTN, dia memang boleh dikata gagal. Tapi dia diterima jalur khusus dengan nama “Penelusuran Bibit Unggul Berprestasi” yang akhirnya membuat sang gadis lolos tanpa tes untuk bisa melanjutkan studi di kampus kebanggaannya. Yup, UGM. Asiikk :)
Eits, perjalanan ini belum selesai. Menaiki 1 tingkatan tangga di bangku perkuliahan. Semua direncanakan sejak awal ketika menjadi mahasiswa baru, segala perencanaan telah disusun rapi. Segala agenda dan kegiatan yang akan diikuti, jadwal perkuliahan yang tersusun rapi seolah-olah menjadi awal bahwa dia telah siap untuk memulai studi di bangku perkuliahan. PPSMB merupakan babak awal yang harus dilalui sebagai mahasiswa baru, berkawan dengan ribuan mahasiswa lainnya dalam baris antar gugus membentuk formasi yang sangat kreatif nan membanggakan. Senyumnya merekah, ketika dia berhasil terpilih menjadi salah satu putri bhinneka dan menjadi awal baru untuk dapat menampilkan keberanian di antara mahasiswa baru lainnya. Namun, hal yang tak disangka ketika suasana kelas saat kuliah yang membuatnya sedikit kesal dan tak kuat untuk menahan tangis hampir setiap hari. Suasana kurang bersahabat dikelas waktu itu membuatnya tak nyaman.
Sejujurnya dia shock, bagaimana tidak ketika Ia harus menerima kenyataan bahwa program studi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi di UGM merupakan jurusan rumpun Saintek. Tidak perlu ditanya perihal praktikum maupun mata kuliah hitung-hitungan yang pasti akan membuatnya bosan dan tak yakin untuk bisa survive. Bebulan-bulan ia bertahan dengan segala rasa keluh kesah usai sepulang kuliah maupun praktikum. Perasaan ingin pulang kerumah dan mengadu pada sang ibu merupakan keinginannya di setiap minggu.
“Bertahanlah, kamu tidak harus secepat itu untuk mencintai sesuatu. Semua butuh proses.”
Begitu singkat pesan sang Ibu yang semakin membuatnya tertekan dan seolah-olah tak ada tempat untuk mengadu atau kawan yang mendukung bahwa dia dalam kondisi sedikit terpuruk untuk menjalani segala kesibukan kuliah di Jogja. 1 semester telah berlalu, memasuki semester kedua, dia merasa dilema akankah mencoba mengulang dari awal perkuliahan dengan mengikuti SBMPTN atau tetap bertahan?
Dia mencari kesibukan dengan mengikuti kegiatan yang positif agar merasa lebih produktif. Segala macam organisasi, komunitas, dan kompetisi yang disukai selalu diikuti, alih-alih agar tetap bisa bertahan di UGM dan mencari kawan diluar kelas hingga Universitas. Setelah perencaannya tersebut, beberapa bulan di semester 2 nampaknya dia berhasil membuat alasan untuk tidak jadi pindah dari jurusan Penginderaan Jauh dan SIG. Kegemarannya saat kecil seperti menulis, bekomunikasi di hadapan banyak orang, dan seni pun tersalurkan dengan baik melalui kegiatan di luar kelas. Bahkan disemester 2 dia berhasil lolos untuk mengikuti symposium di China. Perjalanan membuat visa, mengurus proposal pengajuan dana, dan berjam-jam di pesawat pun ia tempuh. Berawal dari negara panda itupun, Ia terus menyalurkan segala ide dan gagasan di segala kesempatan kompetisi serta kegiatan lainnya. Namun bukannya Ia tak pernah gagal, sering sekali Ia gagal di semester 1 dan 2 entah sekedar gagal untuk mengikuti kegiatan kompetisi atau ditolak dalam suatu kegiatan volunteer dan kepanitiaan di kampus maupun diluar kampus.
Memasuki semester 3, Ia tak merasa patah semangat. Justru di semester tersebut, Allah telah menjawab segala usaha yang Ia lakukan, Allah memberikan jawaban atas segala hal di semester lalu perihal kegagalan. Beberapa kompetisi yang telah di apply, akhirnya membuahkan hasil bahwa Ia lolos hampir 8 kegiatan lomba diluar kota seperti Pekanbaru, Samarinda, Makassar, Bali, Palembang, dan lain sebagainya. Lomba debat, karya tulis ilmiah, maupun essay semua membuahkan hasil yang membanggakan. Juara 1, 2, 3, penghargaan best speaker maupun best article berhasil Ia raih. Namun dalam perjalanan itu pula, Ia telah begitu banyak berkorban dan meninggalkan suatu hal. Berkorban lebih banyak akan waktu, tenaga, pikiran, dan berkorban jarak karena menunda untuk sekedar pulang kerumah. Meskipun begitu, hubungan dengan sang Ibu tetap terjaga. Perihal meninggalkan, Ia juga telah meninggalkan jadwal kelas kuliah, ujian, maupun praktikum yang kemudian membuatnya harus melakukan segala ujian susulan.
Semester baru pun dimulai, dari hasil seluruh kegiatan yang telah Ia tanam di semester 1-3 pun membuahkan hasil, semester 4 sebenarnya Ia ingin fokus hanya pada kuliah dan memperbaiki IP yang sedikit turun disemester 3 namun ada kesempatan lain yang telah Allah rancang untuknya, Ia terpilih menjadi mahasiswa berprestasi UGM dan mewakili di tingkat nasional dengan segala rangkaian pemilihan dari tingkat departemen, fakultas, hingga Universitas. Selain itu Ia juga mendapat kesempatan menjadi delegasi Indonesia pada ASEAN University Network Speech Contest and Education Forum. Kesempatan yang telah Ia dapatkan, lantas tak membuat Ia terbang dan puas. Baginya menyelesaikan studi dan bertanggung jawab atas nilai akademik merupakan kewajiban yang harus segera Ia selesaikan.
Diawal semester 5, Ia pun berkesempatan untuk orasi didepan ribuan mahasiswa baru pada event Closing Ceremony PPSMB, di lapangan Pancasila. Matanya tajam menatap ribuan mata mahasiswa baru dengan semangat dan harapan nyata. Suaranya lantang dan sesekali menggema serta membuat merinding setiap orang yang mendengar dan melihatnya. Sore itu, langit senja tampak keemasan mempersilahkan matahari yang enggan kembali pulang ke peraduannya. Ia senang dan bangga usai menyampaikan orasi. Berkesempatan untuk mengabadikan moment dalam sebuah bingkai foto bersama dengan rektor, direktur kemahasiswaan, serta mentri yang sekaligus menjadi Alumni UGM. Masa di semester 5 memang terbilang agak berat, karena harus segera memikirkan segala tema dan judul untuk Tugas Akhir serta Ia harus menyelesaikan magang di Dinas Pertanahan dan Tata Ruang di saah satu kabupaten di Yogyakarta selama 2 bulan. Magang yang terbilang agak berat dilapangan itu cukup menguras tenanganya namun semuanya terselesaikan dengan baik dan boleh dibilang bahwa Ia merupakan salah satu diantara teman satu angkatan yang magang lebih dahulu, begitu pula dengan sempro yang sudah Ia lakukan di akhir semester 5. Meskipun begitu, disemester 5 pun Ia masih aktif mengikuti kompetisi dan mendapat Juara 1 dan 2 terkait Karya Tulis Ilmiah di Bali dan Jember.
Memasuki semester 6 merupakan akhir semester dari masa studi. Namun belum genap umur studinya di 3 tahun, baru 2 tahun 7 bulan Ia sudah berhasil menyandang gelar baru dan menjadi lulusan tercepat di Universitas Gadjah Mada untuk periode wisuda Mei 2019. Bahkan sebelum resmi di wisuda Ia masih sempat menorehkan prestasi ditingkat Internasional dengan meraih Medali Emas di Thailand Inventor’s Day Thailand serta menjadi presenter dalam conference di Busan, Korea Selatan. Segala penelitiannya pun tidak sia-sia Ia lakukan setelah berhasil mempublikasikan paper dalam salah suatu journal. Semua terselesaikan penuh makna dan pengalaman yang tentu luar biasa. Senyumnya merekah lebar usai prosesi wisuda, Ibu pun bangga karena gadis yang selalu menangis dan merengek untuk pindah dari UGM ternyata bisa menyelesaikan studinya sangat cepat di bandingkan teman-teman angkatan. Namun Ia percaya, apa yang Ia dapat tidak lepas dari segala usaha, support dari berbagai pihak, dosen, dan doa Ibu di setiap sujud sholat baik wajib maupun sunnah di sepertiga malam.
Terselesaikannya dengan cepat perihal tugas akhir merupakan bagian dari terbiasanya Ia dalam menulis Karya Tulis Ilmiah serta timeline dan management waktu yang teratur. Keberhasilannya dalam meraih prestasi baik kompetisi, kegiatan di luar kampus membuat nya tak jarang untuk mengisi acara seminar, talkshow, maupun event di kampus. Hal tersebut membuatnya merasa senang dapat berbagi pengalaman, tips, dan ilmu kepada teman-teman baik di kampus maupun diluar kampus. Usai wisuda Ia masih sempat kembali ke kampung halaman, baginya seorang mahasiswa tidak hanya perihal menuntut ilmu tapi perihal pula bagaimana mengimplementasikan dan membagikan ilmu ke masyarakat. Program mentoring singkat “merakit mimpi” berhasil Ia laksanakan. Tidak butuh waktu lama, segala persiapan cukup singkat dan Ia pun berhasil melakukan kelas mentoring terhadap pemuda di kotanya.
Itu adalah cerita singkat perjalannya selama 21 Tahun, tidak hanya berkelok-kelok melainkan juga terjal. Terimakasih sudah berkunjung dan membaca hingga selesai di perjalanan singkat 21 Tahun ini :))
With Love,
Lutfiana Pasebhan Jati
Lutfiana Pasebhan Jati

0 comments