![]() |
Pilihan menjadi hal yang wajar untuk ditemui hampir setiap harinya dalam hidup. Sekedar pilihan mandi atau makan dulu, pilihan warna baju, bahkan pilihan yang bikin bingung akan "mau makan apa ya hari ini?". Padahal sebenarnya, itu pilihan-pilihan yang sederhana tanpa harus dibikin rumit, namun seringkali kita sendiri yang membuat rumit.
Meskipun pada dasarnya setiap dari kita memiliki kebebasan membuat pilihan, namun nyatanya nggak semua hal bisa kita pilih atau bahkan kita nggak bisa memilih dari pilihan yang sudah kita buat. Alasannya cuma 1, keadaan. Seringkali keadaan membuat kita nggak bisa memilih atau lebih tepatnya memaksaan kita untuk mengikuti keadaan yang nggak pernah kita inginkan dan tiba-tiba datang. Itu yang sekarang sedangku rasakan, belum juga memilih tapi rasanya sudah tidak ada kesempatan lain selain mengikuti keadaan. Jujur, perjalanan ini yang menguras energi, pikiran, bahkan hati. Nggak tau apakah sudah kena mental belum, tapi yang pasti akan lebih menyakitkan jika kita tidak bisa memilih daripada membuat suatu pilihan.
Keadaan yang tidak pernah kuharapkan ini perlahan mengajari arti kehidupan yang cukup mendalam. Hal-hal yang membuatku harus semakin kuat tentang arti kehilangan, kesendirian, kesepian, menghadirkan kebahagiaan dan berjuang tanpa menggantungkan banyak tangan. Setiap dari kita harus kuat di atas kaki sendiri karena pada akhirnya tidak ada yang bisa menolong selain diri kita sendiri dalam keadaan sesulit apapun termasuk memilih suatu keadaan. Resilience menjadi kemampuan penting yang harus dimiliki untuk bertahan dalam segala kondisi. Begitu pula adaptasi dan menerima segala hal yang dilalui. Meskipun berat, namun tidak ada yang lebih penting daripada mengambil hikmah dibandingkan menyesali keadaan.
"Resilience is knowing that you are the only one that has the power and the responsibility to pick yourself up."
- Mary Holloway -

