Teringat dulu waktu maba ketika perkuliahan sudah dimulai kurang lebih 3 bulan, rasanya ngga ada setiap minggu tanpa nangis. Kenapa?
Oke sebelum cerita kesana, singkat cerita dulu SMA aku ambil jurusan IPS dan waktu kuliah jadinya anak Saintek. Yang tadinya ngga pernah praktikum jadi banyak praktikum di tiap minggu, yang tadinya ngga suka ngitung jadi berhadapan sama itung-itungan. Merasa nyaman setiap kali bertemu dengan hal-hal yang berbau seni, public speaking, dan ketemu banyak orang tapi sayangnya hal-hal itu tiada pernah kutemui di jurusanku sendiri. Huh, sedih. Yup, awal-awal memang berat untuk menjalani masa-masa di bangku perkuliahan tapi waktu pulang kerumah saat weekend, disuatu sore…..
I : “Kamu kalo ngga kuat kuliahnya, berhenti aja besok tahun depan nyoba lagi yang sesuai keinginan”
L : “Iya.. tahun depan harus nyoba lagi. Pokonya harus daftar seni dan desain atau X,Y,Z….”
I : “Kuliah itu perlu adaptasi, semua butuh proses. Bisa jadi ini rezekimu untuk kuliah di jurusan X, ngga harus cepat-cepat untuk paham akan sesuatu. Nanti kalo udah dapat ilmu lebih, pasti paham dan semakin nyaman. Tinggal gimana cara kamu untuk bertahan”
At least, ini adalah percakapanku sama Ibu yang hampir tiap minggu kutemui diawal perkuliahan. Entah obrolan langsung dirumah, telfon, maupun kata-kata penguat di chat kalo lagi sibuk dengan kuliah di Jogja. Ngga terasa 1 semeter pertama pun berjalan, masih ngrasa belum paham apapun, masih berambisi untuk ikut test SBM lagi ditahun selanjutnya dan segala keinginan untuk pindah jurusan (secepat apapun) wkwkwk :D
Tiba-tiba... sempat terbesit pertanyaan untuk diriku sendiri.
Hmm kira-kira gimana ya cara untuk mencoba bertahan?
Oke mulailah keluar dari zona nyaman, cari teman baru diluar kelas bahkah diluar fakultas hingga universitas, dan cari pengalaman banyak untuk bisa bertukar pikiran, bertemu orang baru, tetap mencoba betahan dengan memaksimalkan kemampuan/potensi yang ada (public speaking, desain, menulis, penelitian). Jatuh hatilah saat itu pada beberapa kompetisi yang kutemui di linimasa salah satu media masa. Yup kompetisi Debat, Karya Tulis Ilmiah, Essay, dan Poster Design. Hoaaaaaa rasanya senang sekali dong karena merasa sesuai dengan potensi 😊
Salah satu event yang ingin aku ceritakan disini adalah kompetisiku di Makassar, saat itu ada 2 rangkaian kegiatan yaitu oral presentation dan pameran poster. Aku merasa "hidup" dan bersemangat tiap kali bisa berhadapan dengan orang banyak dan presentasi di depan umum atas hasil penelitianku terhadap sesuatu maupun ide/gagasanku pada suatu permasalahan atau topik. Dari sinilah semua kesedihanku untuk tidak bisa bertahan di UGM dan keinginan untuk pindah, pindah dan pindah pun gugur dengan sendirinya. Yup ini adalah salah satu cara untuku bisa bertahan dengan bertemu banyak orang yang saling menyemangati dan lingkungan yang mendukung untuk terus menjadi pribadi lebih baik di setiap harinya.
Waktu sebelum event dimulai brainstorming untuk isi poster, desain, warna, dll dipikirkan jauh-jauh hari dan dengan senang hati. Karena dari hati itulah yang kemudian membuatku dan laksa bisa dapet “Best Poster”. Alhamdulillah... 😊
Makkasar membuatku jatuh hati untuk kedua kalianya.Yang pertama saat lomba debat mendapat penghargaan Juara 3 dan di tahun selanjutnya dengan event yang berbeda berhasil mendapat penghargaan “Best Poster”. Apakah berhenti cukup disitu?
Jelas tidak, dunia desain dan seni mengantarkan kami pula (aku dan laksa) untuk memiliki sebuah bisnis journal book yang kami beri nama “Lunart.Journal” (alhamdulillah sampai sekarang masih bertahan) dengan desain spesial dari kami yang dibuat dari hati. Lalu apakah kami bisa bertahan? Jelas iya, dari sinilah aku pribadi bisa bertahan dengan segala kegaulauanku di bangku perkuliahan ketika awal semester bahkan bisnis dan setiap kompetisi yang kujalani disetiap semester pun mampu menghidupiku.
Journal Book "Lunart.Journal"
Yaaa paling tidak bisa menambah tabungan ketika mendapat penghargaan, itupun kuanggap sebagai bonus. Kenapa bonus? Karena yang terpenting adalah niat (mengapa kamu ingin melakukan ini itu) dan proses (kesabaran, kegigihan, berjuang hingga jatuh).
Dan terbukti, bahwa perkataan ibu selama ini memang benar hehe.
Untuk mencintai sesuatu memang butuh proses. Proses mau menerima dan proses belajar. Paling tidak, sampai saat ini aku sudah lebih paham atas materiku selama di bangku perkuliahan, bahkan hal yang tidak terduga, aku berhasil internship di lapangan untuk Ilmu Ukur Tanah yang padahal dulunya (waktu maba) aku tidak suka hitung2 wkwkwk. Bersyukur pula dari suka penelitian serta menulis untuk karya ilmiah atau jurnal mampu mengantarkanku untuk menyelesaikan dengan cepat dalam proses penulisan tugas akhir sehingga bisa menjadi wisudawan tercepat (sekali lagi, alhamdulillah).
Kadang kita merasa tidak mampu tapi ketika kita sudah berusaha berjalan, melewati, dan menengok ke belakang ternyata kita bisa. Don’t forget to push yourself to the limit!
Hal penting yang ingin kusampaikan disini adalah bahwa yang (merasa) salah jurusan belum tentu memang salah. Karena takdir Allah tidak pernah salah, hanya saja kita yang terlalu banyak mengeluh dan merasa tidak mampu menjalani padahal kita sendiri yang memang belum berjuang untuk bertahan.
Hoaaa makasih yang udah baca sampai akhir. Sampai jumpa ditulisan berikutnya! 😊
I do let my life flow as Allah wrote it for me. But as a human I’m trying to plan it as good as possible.
I do let my life flow as Allah wrote it for me. But as a human I’m trying to plan it as good as possible.
30/6/2019
With love,
Lutfiana Pasebhan J



