Tidakkah
kamu sadar akan mahirnya bersandirawa di depan kamera? Menutupi segala
kegelisahan dan ketakutan yang kamu hadapi seolah-olah semuanya baik-baik saja?
Tapi, hei! Lantas kamu telah berbohong dengan dirimu sendiri dan lingkungan
disekelilingmu. Ku yakin kamu pernah merasa penat, bosan, suntuk, atau bahkan
sudah merasa layaknya seorang “public figure” di media sosial tapi tak
jua membuatmu bahagia? Bahagia sih iya, tetapi hanya pada saat fase dimana kamu
telah mendapat apa yang kamu dapat, dibanjiri pujian, dan bertambah dalam
hitungan akan jumlah pengikut di seluruh akun media sosialmu.
Tak
sadar banyak orang berucap “capek” hampir setiap hari entah bergumam
dalam hati atau sekedar berbagi kata singkat itu dihadapan teman, kerabat,
maupun penonton media sosial yang dibagikan dalam bingkai fitur instastory dan
lain sebagainya. Tapi jika dirasa, apakah kamu sebenar-benarnya merasa capek?
Secapek kah kamu dengan seorang pemecah batu di tepian sungai gendol di lereng
bawah Merapi? Atau sudah secapekkah kamu dengan seseorang terdekatmu di rumah (ibu)
yang sudi untuk bangun pagi bersama dengan terbitnya fajar untuk segera membuat
sarapan, menyapu tiap sudut rumah, dan menyiapkan bekal serta seragam sekolah
sebelum kamu terbangun?
Tapi, mengapa rasa capekmu tidak berujung hingga di garis
finish? Justu malah semakin menumpuk.
Wait, take a deep breath…
Antara
rasa capek dan rasa untuk kurang bersyukur hingga tidak merasa cukup itu
berbeda. Semestinya, capek akan bisa berujung kebahagiaan di hati, pikiran, dan
meningkatkan spiritual seperti tatkala seorang pemecah batu dapat menukar hasil
tiap kerikil dari bongkahan batu besar sisa letusan gunung api menjadi uang
untuk dapat membeli beberapa kilo beras dan sayur-mayur yang menjadi kebutuhan
pokok sehari-hari. Atau dengan ibu yang akan tersenyum manis tatkala anaknya
bisa makan lahap sebelum berangkat ke sekolah dan tersenyum lebar ketika sang
jagoan bisa menjadi juara di sekolah. Capek akan mudah hilang dengan istirahat
dan mengisi energi bukan? Yup, sesederhana itu (sebenarnya). Kecuali, jika
capek yang kamu rasakan perihal capek dunia dengan segala kegelisahan,
ketakutan, target yang tidak berujung dengan pencapaian, gaya hidup yang ingin
selalu bisa menjadi sorotan, jalan yang tidak selalu sesuai dengan perencanaan
dan lain sebagainya.
Apakah kamu sedang
mengalami hal tersebut?
Jika iya, kamu tidak
sendiri. Teruslah membaca hingga tulisan ini selesai diujung baris, akan aku
ceritakan kisahku hihi :D
Ok,
aku pernah merasa hal yang sama sepertimu entah merasa gelisah, takut, tidak
yakin, dan lain sebagainya. Pada saat itu setelah ku rasakan dan ku pahami,
bahwa sebenarnya aku tidak sedang merasa “capek”. Fisikku baik-baik saja tidak
merasa pegal-pegal atau bahkan memar usai angkat-angkat barang berat, tidak.
Rasa yang kupikir “capek” itu hingga berhari-hari tak berujung membaik. Ku
luangkan waktu untuk sekedar me time, self-reward dengan boba
di segelas matcha, tidur cukup hingga 8 jam, melakukan hobi, hingga bermain
mesin capit boneka di timezone salah satu mall kotaku pun tetap tidak
membuahkan hasil, yang ada uang tabunganku sedikit menipis hanya untuk self-reward wkwkw
:D. Akhirnya, aku bercermin melihat wajahku yang sedikit murung, hmmm rasanya
tak enak dilihat. Kucoba untuk melengkungkan garis bibir keatas daannnn manis
sekali 😊. Ada sedikit rasa bahagia dan tenang di sana
(dihati). Aku mencoba meditasi, sederhananya meditasi yang ku lakukan hanya
berfokus pada nafas masuk dan keluar namun hasilnya bisa membuat pikiran dan
perasaan lebih tenang, emosi lebih terkontrol, dan fokus pada apa yang sedang
menjadi terget dan kebutuhan saat ini tanpa melihat sana-sini.
Dari
rasa yang kita lontarkan dan dipikir “capek”, sebenarnya kita sedang merasa
gelisah, tidak percaya diri dengan apa yang akan kita jalani, dan minder dengan
segala pencapaian orang. Hingga akhirnya kita menyebutnya C.A.P.E.K dengan alih-alih
agar segala rasa gelisah dan teman-temannya itu bisa ditutupi dengan baik.
Jikalau memang merasa sedang tidak baik-baik saja alangkah baiknya kamu
berjujur diri dengan dirimu sendiri, kerabat, atau teman terdekatmu yang kamu
anggap bisa menjadi tempat untuk bercerita bahkan berkeluh kesah agar rasa
tersebut tidak terus-menerus menghantui. Jauhkan dirimu dengan hal-hal yang
membuatmu kesal atau mood mu menurun. Pahami diri dan rasamu, serta merasa
cukup lah dengan apa yang sedang kamu miliki saat ini. Merasa cukup namun
jangan cepat merasa puas dan tetap harus bersyukur. Mungkin kamu sedang tidak
merasa capek, tapiiii… kamu hanya terlalu sibuk membandingkan diri dengan orang
lain dan terlalu banyak merlihat dunia maya yang penuh dengan peran layaknya
panggung sandiwara. Cobalah menyapa dirimu sendiri dan bincang nyata di dunia
yang sebenar-benarnya dunia. :)
Jadi?
Apakah kamu sebenar-benarnya sedang merasa “capek”?
Jika
memang kamu capek, istirahatlah dan penuhi energi tubuhmu (tidur cukup, makan sehat,
berolahraga, and charge your faith) agar esok kamu kembali berenergi
untuk beraktivitas. Namun jika kamu merasa capek dengan kehidupan yang katanya
melelahkan, coba untuk lebih memaknai hidup dalam setiap perjalanan yang telah
kamu tempuh dan refleksi pada dirimu sendiri. Jangan takut atau gelisah.
Hidup bukan kompetisi, karena di setiap masing-masing dari
kita memiliki peran dan kesempatan yang sama untuk mencoba memulai, gagal, dan
bangkit kembali. Kita memiliki masing-masing peran dalam kehidupan ini, setiap
orang memiliki waktu dan jalan sendiri-sendiri.
With
Love,
Lutfiana
Pasebhan Jati





