Menjadi Beda Bukan Masalah
December 17, 2019
Cerita ini pada akhirnya menarik untuk diangkat dan ditulis karena ingin memberikan sisi opini yang berbeda terkait jurusan atau pendidikan seseorang. Menurutku kesetaraan itu tidak hanya terletak pada gender, melainkan juga pada pendidikan atau focus study. Kenapa begitu?
But, before I talk too much about my opinions, let me tell you a story when I was Senior High School.
Merasa di nomor dua kan itu memang membuat kondisi tidak nyaman, baik kondisi hati maupun pikiran. Biarpun sejatinya memang tidak ada unsur kesengajaan untuk dijadikan subjek yang di nomor duakan namun terkadang pandangan masyarakat bahwa pendidikan A lebih baik dari B tidak bisa dihindarkan. Perasaan resah dan kesal hingga akhirnya membuat pola pikir ini berkembang serta memiliki sudut pandang yang berbeda bermula di bangku SMA. Saat itu, adalah masa dimana aku merasa menjadi minoritas akan jurusan, kemudian muncul sedikit kesenjangan dari pandangan sosial. Latar belakang jurusan yang berbeda dari teman2 kadang membuat diri ini dicap dengan penuh ketidakmampuan.
Yup, saat SMA dulu ku memilih rumpun Soshum (IPS). Dahulu ada pandangan bahwa menjadi anak IPS itu tergolong daripada orang-orang yang tidak pandai, hanya buangan dari IPA, yang tidak lolos untuk masuk di jurusan IPA dll. Ada lagi pandangan lain terkait perilaku anak IPS yang menyebutkan bahwa mereka adalah anak2 yang berperilaku tidak tertib, kurang sopan santun, tidak serius, atau banyak bercanda. Well, bisa jadi pernyataan itu benar namun bisa jadi juga bahwa pernyataan itu dapat terbantahkan. Tidak seharusnya semua pernyataan2 tersebut kemudian menciptakan label baru dan menyudutkan latar belakang studi lain yang dirasa tidak sesuai dengan standar umum masyarakat.
Yup, saat SMA dulu ku memilih rumpun Soshum (IPS). Dahulu ada pandangan bahwa menjadi anak IPS itu tergolong daripada orang-orang yang tidak pandai, hanya buangan dari IPA, yang tidak lolos untuk masuk di jurusan IPA dll. Ada lagi pandangan lain terkait perilaku anak IPS yang menyebutkan bahwa mereka adalah anak2 yang berperilaku tidak tertib, kurang sopan santun, tidak serius, atau banyak bercanda. Well, bisa jadi pernyataan itu benar namun bisa jadi juga bahwa pernyataan itu dapat terbantahkan. Tidak seharusnya semua pernyataan2 tersebut kemudian menciptakan label baru dan menyudutkan latar belakang studi lain yang dirasa tidak sesuai dengan standar umum masyarakat.
Pernah ketika 4 tahun yang lalu tepatnya saat kelas 11 SMA ditanya oleh seorang rekan dari orang tua terkait jurusan. Kemudian penanya seolah-olah menyudutkan hingga menyalahkan ketika akhirnya aku memilih jurusan IPS. Ku ngga habis pikir, pandangan orang-orang bahkan yang sudah dewasa, berumur, dan memiliki pengalaman lebih pun tidak menjamin mereka untuk bisa menjadi penanya yang bijak atas segala keputusan yang diambil oleh seseorang. Waktu itu ada beberapa pertanyaan yang terlintas dikepalaku.
"Memangnya kenapa jika saya ambil jurusan IPS?"
"Apakah salah?"
"Apakah salah?"
"Apakah saya buangan?
Apakah saya bodoh?"
Apakah saya bodoh?"
Pandangan-pandangan serta perlakuan dan akhirnya dibandingkan oleh orang2 pada saat itu, membuatku sadar bahwa dunia pendidikan serta guru pun yang seharusnya menjadi penggerak serta fasilitator bagi peserta didiknya ternyata ada beberapa yang memang belum mampu untuk menjadi sebenar-benarnya penggerak. Kadang pada suatu kesempatan malah mematikan ruang gerak. Yup, waktu itu adalah masa-masa kecewa. Bukan kecewa dengan pilihan namun dengan keadaan yang bahwasanya masyarakat masih belum begitu terbuka dengan adanya perbedaan. Perbedaan akan kemampuan dalam berpikir setiap anak manusia itu berbeda-beda. Jika melihat suatu perbedaan hanya untuk dibeda-bedakan, lalu bagaimana seorang murid bisa maju? Perbedaan jurusan saja seolah-olah dipermasalahkan dan mendapat perlakuan yang berbeda? Perlu banget kan adanya toleransi dan menerima perbedaan? Bukan hanya toleransi beragama, tapi toleransi akan pilihan hidup seseorang juga penting agar kita tidak langsung menghakimi.
Ku pribadi bukan tipe orang yang merasa mati akan suatu pernyataan yang pahit. Dan terkadang, perkaatan serta pandangan yang tidak baik dari masyarakat terkait pendidikan justru membuatku semakin semangat untuk meraih mimpi, harapan, serta target kedepan. Perkataan yang menjatuhkan memang pada akhirnya harus diterima namun kemudian harus pula diolah untuk menguatkan mental kita. Ketidakpercaayan publik saat masih di bangku SMA, akhirnya bisa terbantahkan dengan baik dan menjadi hasil yang mengejutkan. Kata orang yang saat itu menjadi anak IPS adalah buangan, bahwa pada akhirnya menjadi juara ranking paralel 3 besar di sekolah hingga 3 tahun berturut-turut pun bisa ku buktikan serta diterima di kampus impian, UGM akhirnya pula dapat menjadi bukti. Diterima di UGM melalui jalur Penulusuran Bibit Unggul tanpa tes adalah salah satu bukti terbesarku kepada orang-orang yang haus akan jiwa optimis pada masa itu.
Namun.....
Berulang lagi, tahun 2016 ku mendengar pernyataan yang merendakan bahkan dari kawan seperjuangan terkait latar belakang pendidikan.
Namun.....
Berulang lagi, tahun 2016 ku mendengar pernyataan yang merendakan bahkan dari kawan seperjuangan terkait latar belakang pendidikan.
VOKASI
Ribuan calon mahasiswa baru pun hanya sepersekian persen yang mungkin bisa dikata benar-benar minat di program vokasi. Lalu sisanya? Sisanya memperjuangkan program sarjana, begitu pula aku pribadi juga turut memperjuangkan program sarjana setelah diterimanya di UGM pada program Vokasi. Program yang hanya menjadi cadangan bagi hampir seluruh mahasiswa baru yang hendak mendaftar ke PTN maupun PTS. Meskipun pada akhirnya ku memilih vokasi (di sisi lain juga diterima di program sarjana S1 Ekonomi di salah satu PTN) namun ku tidak pernah merasa kecewa dengan segala pilihan yang akhirnya sudah diambil dan menjadi bagian daripada rezeki Tuhan. Diakui atau tidak pada kenyataannya menjadi anak vokasi terkadang masih dipandang sebelah mata. Beberapa diskusi yang kulakukan bersama mahasiswa vokasi di luar UGM memang merasakan bahwa adanya kesenjangan. Entah itu fasilitas dalam sistem pembelajaran dan kurangnya tenaga pendidik.
PS : Saya dan kamu boleh beda pendapat, tapi apa yg saya share adalah hal yang pernah dan sedang saya rasakan.
Well, yang perlu di garisbawahi adalah bahwa setiap orang memiliki potensi yg berbeda, tugasnya hanya memaksimalkan dan mengusahakan yg terbaik. Tdk ada yg lebih baik antara IPA atau IPS pun diploma atau sarjana. Karena sama2 baik dan memiliki fokus studi yang berbeda. Soooo seharusnya tidak ada yang perlu dinomor dua kan, karena sekali lagi berbeda.
Contohnya diploma dan sarjana. bedanya dimana? Pertama programnya, bobot teori dan ketrampilannya berbeda.
Contohnya diploma dan sarjana. bedanya dimana? Pertama programnya, bobot teori dan ketrampilannya berbeda.
Yuk, selalu perkaya perspektif. Jika orang bisa berkata ah cuma IPS, ah cuma Diploma, Oalah PTS dll
Ubah statement itu menjadiii...
Kalo saya diploma/IPS/SMK/PTS lalu mengapa?
Saya IPS tapi saya bisa masuk PTN, masuk UGM
Saya Diploma, tp saya ngga boleh kalah sama anak2 S1.
Saya kuliah kok banyak prktikum ya? Tapi saya bisa tuh ikut kompetisi/organisasi yg nyatanya membawa saya menjadi mapres (alhamdulillah). Saya Diploma tapi saya juga bisa lanjut hingga Sarjana. Lalu apa yg menjadi istimewa?
Saya kuliah kok banyak prktikum ya? Tapi saya bisa tuh ikut kompetisi/organisasi yg nyatanya membawa saya menjadi mapres (alhamdulillah). Saya Diploma tapi saya juga bisa lanjut hingga Sarjana. Lalu apa yg menjadi istimewa?
Kualitas diri kita
Apa pengalaman kita?
Apa kontribusi kita? dan
Apa yg bisa kita lakukan?
Apa kontribusi kita? dan
Apa yg bisa kita lakukan?
Bukan hanya membandingkan dan jangan merasa A lbh baik dari B. Karena setiap orang memiliki peran dan tidak ada jurusan yg baik atau buruk.
Semua baik karena sesuai dgn kemampuan dan potensi.


0 comments