Let's Peace with Yourself

May 03, 2019

Tidak ada keharusan untuk kamu mengikuti apa yang kebanyakan orang pinta dari kamu, lakukan sesuatu yang terkeren dan terbaik menurut versimu serta berdamailah pada hati, pikiran, dan dirimu sendiri.

------------------------
1 Mei 2019, dari gerbong ekonomi 2/14D ku menulis coretan singkat ini.

Suka cita sekali rasanya ku menyambut bulan ini, bulan penuh berkah di bulan Ramadhan. Kurasa ramadhan kali ini akan berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Akan ada sedikit perayaan atas keberhasilanku menyelesaikan studi di bangku perkuliahan Universitas Gadjah Mada (UGM). Perhelatan untuk melepas seorang mahasiswa dengan suatu gelar dibelakang namanya, atas segala ilmu, pencapaian, dan dedikasinya di bangku kuliah. Sebut saja wisuda.
Memasuki masa-masa terselesaikannya studi ku dibangku kuliah, rasanya sudah banyak sekali pertanyaan yang masuk tapi tak ku tampung, hanya kudengar, dan kubiarkan saja pertanyaan itu lewat. Toh, esok hari juga akan ada pertanyaan yang serupa. Kamu ingin tahu pertanyaan itu apa?

“Habis ini mau kemana?”
“Lanjut kuliah atau kerja?”

Umum bukan? Tapi pertanyaan itu akan beranak pinak yang sudah macam tersangka dan politisi saja ku dicecari berbagai macam pertanyaan. Tak ada yang salah dari pertanyaan itu, pertanyaan kebanyakan orang pada umumnya, saat satu fase akan terlewati dan memasuki fase yang lain.
Zona yang berat adalah ketika kita akan memasuki masa transisi karena akan ada 2 hal yang dilalui, berpisah atau meninggalkan baik tempat, teman, maupun kenangan lama dan memasuki zona baru. Butuh lebih dari sekedar adaptasi. Itulah zona berat, kadang ada yg kuat menjalani tapi ada juga yang lemah dan terseleksi oleh alam, atau justru mundur kebelakang.
Seringkali aku menerima banyak pertanyaan, tapi tak membuat aku makin bingung karena aku tipe orang yang berprinsip. Justru kadang aku sedikit terusik dan terganggu dengan berbagai pertanyaan (beranak-pinak itu) yang memang belum tentu semua orang mau menerima dan memahami atas jawaban dan keputusanku.

Teknologi tidak salah, begitu juga dengan sosial media. Netizen boleh berkomentar boleh bertanya karena social media adalah tempatnya. Seringkali bingung dengan banyaknya orang yang datang untuk bertanya, seolah mereka peduli atau malah sebaliknya? Hanya menanya dan kemudian mencari celah untuk mencela bahkan menjatuhkan. Sebentar sebentar…. bukan bermaksud untuk berprasangka buruk, tapi hanya ingin melindungi diri atas keputusan yang diambil disuatu hari.

Kalian pernah merasakan hal sama denganku?

Pertanyaan, saran, dan kritik mereka tidak harus kamu masukkan kedalam hati atau bahkan membuat kamu jatuh down dan tidak percaya diri. Tapi jika ada baiknya dan memang bisa menjadikan kamu lebih baik kedepannya, silahkan didengar. Kamu tidak perlu juga menjadi apa yang mereka pinta. Jadilah kamu seutuhnya, karena pada akhirnya kamu yang menjalani suatu fase kehidupan bukan mereka.
Cercaan dan kata-kata remeh dari mereka yang berusaha menjatuhkanmu, menggagalkan sejuta mimpimu, biarlah saja. Jadikan remehan mereka sebagai semangat pada dirimu untuk bisa melangkah maju. Keberadaan hingga suksesku saat ini juga diiringi oleh banyak remehan dan cercaan dari banyak orang.
Tapi justru itu yang membuat kuat untuk bertahan dan terus melangkah.
Terima diri kamu seutuhnya maka dunia akan menerimamu. Menerima segala keputusan dan setiap langkah yang telah kamu ambil. Hidupmu terlalu berharga jika sekedar untuk kau salahkan, Tuhan punya alasan mengapa kamu terlahir, mengapa kamu gagal, dan mengapa kamu harus berusaha dan berdoa.
Kita punya rencana dan fantasi jalan hidup masing-masing. Tak perlu menyalahkan keputusan hidup seseorang. Sekali lagi hidup ini kamu yang menjalani dan tidak perlu banyak mengurus apa yang orang lain pilih tidak perlu untuk sampai menjatuhkan.

Kalau gagal bagaimana?
Tenang, kamu tidak sendiri mengalami itu.
Jika kamu takut dan menangis saat merasa gagal?
Tidak apa-apa kamu menangis dan terkadang takut, tapi… menyerah bukan jawaban.
Ada 1 alasan kenapa kamu gagal, tapi kamu punya lebih dari 1 alasan untuk bangkit dari rasa gagal. Kau tau kenapa kebanyakan dari orang tidak bahagia dalam hidupnya?
Apa karena gagal? Apa karena diremehkan orang dan dicaci oleh orang?
Tidak.

Kebahagiaan itu sederhana, ketika kamu bisa merasa cukup, bersyukur atas segala nikmat yang telah Tuhan beri, dan menikmatinya dalam setiap jalan kehidupan sesuai dengan rencana dan pilihanmu. Berdamailah dengan dirimu, tak perlu ikuti kata orang, cukup pahami dirimu seutuhnya.
Solo Ekspress, JOG-SOC
May, 1st 2019

With Love,
-Lutfiana Pasebhan Jati-
Marhaban ya Ramadhan :))

You Might Also Like

0 comments