Jangan Terlalu Capek Akan Pikiranmu Sendiri

August 18, 2019



Tidakkah kamu sadar akan mahirnya bersandirawa di depan kamera? Menutupi segala kegelisahan dan ketakutan yang kamu hadapi seolah-olah semuanya baik-baik saja? Tapi, hei! Lantas kamu telah berbohong dengan dirimu sendiri dan lingkungan disekelilingmu. Ku yakin kamu pernah merasa penat, bosan, suntuk, atau bahkan sudah merasa layaknya seorang “public figure” di media sosial tapi tak jua membuatmu bahagia? Bahagia sih iya, tetapi hanya pada saat fase dimana kamu telah mendapat apa yang kamu dapat, dibanjiri pujian, dan bertambah dalam hitungan akan jumlah pengikut di seluruh akun media sosialmu.

Tak sadar banyak orang berucap “capek” hampir setiap hari entah bergumam dalam hati atau sekedar berbagi kata singkat itu dihadapan teman, kerabat, maupun penonton media sosial yang dibagikan dalam bingkai fitur instastory dan lain sebagainya. Tapi jika dirasa, apakah kamu sebenar-benarnya merasa capek? Secapek kah kamu dengan seorang pemecah batu di tepian sungai gendol di lereng bawah Merapi? Atau sudah secapekkah kamu dengan seseorang terdekatmu di rumah (ibu) yang sudi untuk bangun pagi bersama dengan terbitnya fajar untuk segera membuat sarapan, menyapu tiap sudut rumah, dan menyiapkan bekal serta seragam sekolah sebelum kamu terbangun?

Tapi, mengapa rasa capekmu tidak berujung hingga di garis finish? Justu malah semakin menumpuk.
Wait, take a deep breath…

Antara rasa capek dan rasa untuk kurang bersyukur hingga tidak merasa cukup itu berbeda. Semestinya, capek akan bisa berujung kebahagiaan di hati, pikiran, dan meningkatkan spiritual seperti tatkala seorang pemecah batu dapat menukar hasil tiap kerikil dari bongkahan batu besar sisa letusan gunung api menjadi uang untuk dapat membeli beberapa kilo beras dan sayur-mayur yang menjadi kebutuhan pokok sehari-hari. Atau dengan ibu yang akan tersenyum manis tatkala anaknya bisa makan lahap sebelum berangkat ke sekolah dan tersenyum lebar ketika sang jagoan bisa menjadi juara di sekolah. Capek akan mudah hilang dengan istirahat dan mengisi energi bukan? Yup, sesederhana itu (sebenarnya). Kecuali, jika capek yang kamu rasakan perihal capek dunia dengan segala kegelisahan, ketakutan, target yang tidak berujung dengan pencapaian, gaya hidup yang ingin selalu bisa menjadi sorotan, jalan yang tidak selalu sesuai dengan perencanaan dan lain sebagainya.

Apakah kamu sedang mengalami hal tersebut?
Jika iya, kamu tidak sendiri. Teruslah membaca hingga tulisan ini selesai diujung baris, akan aku ceritakan kisahku hihi :D

Ok, aku pernah merasa hal yang sama sepertimu entah merasa gelisah, takut, tidak yakin, dan lain sebagainya. Pada saat itu setelah ku rasakan dan ku pahami, bahwa sebenarnya aku tidak sedang merasa “capek”. Fisikku baik-baik saja tidak merasa pegal-pegal atau bahkan memar usai angkat-angkat barang berat, tidak. Rasa yang kupikir “capek” itu hingga berhari-hari tak berujung membaik. Ku luangkan waktu untuk sekedar me time, self-reward dengan boba di segelas matcha, tidur cukup hingga 8 jam, melakukan hobi, hingga bermain mesin capit boneka di timezone salah satu mall kotaku pun tetap tidak membuahkan hasil, yang ada uang tabunganku sedikit menipis hanya untuk self-reward wkwkw :D. Akhirnya, aku bercermin melihat wajahku yang sedikit murung, hmmm rasanya tak enak dilihat. Kucoba untuk melengkungkan garis bibir keatas daannnn manis sekali 😊. Ada sedikit rasa bahagia dan tenang di sana (dihati). Aku mencoba meditasi, sederhananya meditasi yang ku lakukan hanya berfokus pada nafas masuk dan keluar namun hasilnya bisa membuat pikiran dan perasaan lebih tenang, emosi lebih terkontrol, dan fokus pada apa yang sedang menjadi terget dan kebutuhan saat ini tanpa melihat sana-sini.

Dari rasa yang kita lontarkan dan dipikir “capek”, sebenarnya kita sedang merasa gelisah, tidak percaya diri dengan apa yang akan kita jalani, dan minder dengan segala pencapaian orang. Hingga akhirnya kita menyebutnya C.A.P.E.K dengan alih-alih agar segala rasa gelisah dan teman-temannya itu bisa ditutupi dengan baik. Jikalau memang merasa sedang tidak baik-baik saja alangkah baiknya kamu berjujur diri dengan dirimu sendiri, kerabat, atau teman terdekatmu yang kamu anggap bisa menjadi tempat untuk bercerita bahkan berkeluh kesah agar rasa tersebut tidak terus-menerus menghantui. Jauhkan dirimu dengan hal-hal yang membuatmu kesal atau mood mu menurun. Pahami diri dan rasamu, serta merasa cukup lah dengan apa yang sedang kamu miliki saat ini. Merasa cukup namun jangan cepat merasa puas dan tetap harus bersyukur. Mungkin kamu sedang tidak merasa capek, tapiiii… kamu hanya terlalu sibuk membandingkan diri dengan orang lain dan terlalu banyak merlihat dunia maya yang penuh dengan peran layaknya panggung sandiwara. Cobalah menyapa dirimu sendiri dan bincang nyata di dunia yang sebenar-benarnya dunia. :)

Jadi? Apakah kamu sebenar-benarnya sedang merasa “capek”?
Jika memang kamu capek, istirahatlah dan penuhi energi tubuhmu (tidur cukup, makan sehat, berolahraga, and charge your faith) agar esok kamu kembali berenergi untuk beraktivitas. Namun jika kamu merasa capek dengan kehidupan yang katanya melelahkan, coba untuk lebih memaknai hidup dalam setiap perjalanan yang telah kamu tempuh dan refleksi pada dirimu sendiri. Jangan takut atau gelisah.

Hidup bukan kompetisi, karena di setiap masing-masing dari kita memiliki peran dan kesempatan yang sama untuk mencoba memulai, gagal, dan bangkit kembali. Kita memiliki masing-masing peran dalam kehidupan ini, setiap orang memiliki waktu dan jalan sendiri-sendiri.


With Love,

Lutfiana Pasebhan Jati

You Might Also Like

0 comments